Imam Ibnul Wardi

Inspirasi Qurani Meriahkan Ramadhan

Bicara Kebaikan

[Insert link title here]

Iqra' Mudah Meriahkan Ramadhan

Khamis, 25 Julai 2013

JANGAN IKUT CAMPUR URUSAN ALLAH


Sekadar Hiasan

"Ingatlah, jangan sampai engkau ikut mengatur bersama Allah. Orang yang ikut mengatur bersama Allah seperti orang yang diutus majikannya ke suatu daerah untuk membuatkan beberapa baju baginya.

Si pelayan itu pun pergi ke daerah tersebut dan setibanya di sana ia bertanya: 'Di mana aku akan tinggal? Siapa yang akan kunikahi?'

Ia sibuk dengan berbagai urusan itu sehingga melupakan mengerjakan tugas yang diamanatkan majikannya.
Ketika dipanggil pulang, balasan yang akan ia dapat dari majikannya adalah pemecatan dan murka sang majikan.

Itulah balasan bagi orang yang sibuk dengan urusannya sendiri sehingga lalai terhadap hak sang majikan. Wahai mukmin, keadaanmu pun seperti itu. Allah telah mengirimmu ke dunia ini.

Dia memerintahkanmu untuk mengabdi kepada-Nya. Pada saat yang sama, Dia juga mengatur dan mengurusi semua kebutuhanmu.

Tapi, jika engkau sibuk dengan urusan sendiri sehingga melalaikan hak-hak Tuhan, berarti engkau telah menyimpang dari garis petunjuk dan meniti jalan kebinasaan.

Orang yang ikut mengatur bersama Allah dan orang yang menyerahkan urusan kepada Allah seperti dua pelayan raja. Pelayan pertama sibuk memenuhi perintah raja.

Ia tidak dipalingkan oleh urusan pakaian dan makanan, dan yang ada di benaknya hanyalah bagaimana mengabdi dengan baik kepada sang majikan. Ia tidak sibuk dengan urusan dan kepentingan dirinya sendiri.

Sementara, pelayan kedua banyak disibukkan urusan dan kepentingan dirinya sendiri sehingga setiap kali dibutuhkan oleh sang majikan, ia malah sibuk mencuci pakaiannya, berkendara, atau memperbagus pakaiannya.

Tentu saja pelayan pertama lebih berhak mendapat perhatian sang majikan daripada yang kedua. Si majikan tidak membeli pelayan itu kecuali agar ia mengabdi kepadanya.

Demikian pula hamba yang cermat dan mendapat taufik. Ia lebih sibuk menunaikan hak-hak Allah dan menjalankan perintah-Nya ketimbang memperhatikan keinginan dan tuntutan pribadi.

Dalam kondisi semacam itu Allah yang akan mengurusi semua kebutuhannya dan akan memberinya berbagai karunia karena ia jujur dan bertawakal.

Ini sesuai dengan firman Allah: 'Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Dia mencukupinya.' (QS At-Thalaq 65: 3).

Sementara, orang yang lalai tidak seperti itu.

Ia akan selalu sibuk mencari dunia dan berbagai hal yang dapat memenuhi keinginan nafsunya."

~Ibnu Atha'illah dalam Taj Al-'Arus~

Kredit To Fb : Abu Nawas Majdub

Khamis, 18 Julai 2013

Tadabbur Ayat : Pilihlah untuk ISTIQOMAH bersama ISLAM & PERJUANGANNYA


Wahai orang-orang yang beriman! mengapa apabila dikatakan kepada kamu, "berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah," kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu lebih menyenangi kehidupan di dunia daripada kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.

Jika kamu tidak berangkat (untuk berperang), nescaya Allah akan menghukum kamu dengan azab yang pedih dan menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan merugikan-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya (iaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekah); sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada di dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, "jangan engkau bersedih , sesungguhnya Allah bersama kita." Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan membantu dengan bala tentera (malaikat-malaikat) yang tidak terlihat olehmu, dan dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah. Dan firman Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.

Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.


Sekiranya (yang kamu serukan kepada mereka) ada keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, nescaya mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu terasa sangat jauh bagi mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah, "Jikalau kami sanggup nescaya kami berangkat bersamamu." Mereka membinasakan diri sendiri dan Allah mengetahui bahawa mereka benar-benar orang yang berdusta.

Allah memaafkanmu (Muhammad). Mengapa engkau memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar-benar (berhalangan) dan sebelum engkau mengetahui orang-orang yang berdusta?

Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin (tidak ikut) kepadamu untuk berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Allah mengetahui orang-orang yang bertaqwa.

Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu (Muhammad), hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu, kerana itu mereka selalu bimbang dalam keraguan.

Dan jika mereka mahu berangkat, nescaya mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Dia melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan (kepada mereka), "Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.



Jika (mereka berangkat bersamamu), nescaya mereka tidak akan menambah (kekuatan)mu, malah hanya akan membuat kekacauan, dan mereka tentu bergegas maju ke depan di celah-celah barisanmu untuk mengadakan kekacauan (dibarisanmu); sedang di antara kamu ada orang yang sangat suka mendengarkan (perkataan) mereka. Allah mengetahui orang-orang yang zalim.

Sesungguhnya, sebelum itu mereka memang sudah berusaha membuat kekacauan dan mengatur berbagai macam tipu daya bagimu (memutar balikkan persoalan), hingga datanglah kebenaran (pertolongan Allah), dan menanglah urusan (agama) Allah, padahal mereka tidak menyukainya.

Dan di antara mereka ada orang yang berkata, "Berilah aku izin (tidak pergi berperang) dan janganlah engkau (Muhammad) menjadikan aku terjerumus ke dalam fitnah." Ketahuilah, bahawa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sungguh, jahanam meliputi orang-orang yang kafir.

Jika engkau (Muhammad) mendapat kebaikan, mereka tidak senang; tetapi jika engkau ditimpa bencana, mereka berkata, "Sungguh, sejak semula kami telah berhati-hati (tidak pergi berperang)," dan mereka berpaling dengan (perasaan) gembira.

Katakanlah (Muhammad), "Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertwakkallah orang-orang yang beriman."

Katakanlah (Muhammad), "Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan (menang atau mati syahid). Dan kami menunggu-nunggu bagi kamu bahawa Allah akan menimpakan azab kepadamu dari sisi-Nya, atau (azab) melalui tangan kami. Maka tunggulah, sesungguhnya kami menunggu (pula) bersamamu."

Katakanlah (Muhammad), "Infakkanlah hartamu baik dengan sukarela mahupun dengan terpaksa, namun (infakmu) tidak akan diterima. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang fasik."

Dan yang menghalang-halangi infak mereka untuk diterima adalah kerana mereka kafir (ingkar) kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak melaksanakan solat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menginfakkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan (terpaksa).

Dan mereka (orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahawa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu; namun mereka bukanlah dari golonganmu, tetapi mereka orang yang sangat takut (kepadamu).

Sekiranya mereka memperoleh tempat perlindungan, gua-gua atau lubang-lubang (dalam tanah) nescaya mereka pergi (lari) ke sana dengan secepat-cepatnya.

Surah At-Taubah ayat 38-57


p/s : Tadarus dan tadabbur hari ini...

*Ingatan buat diri, adik-adik dan sahabat-sahabat yang disayangi fillah

Selasa, 16 Julai 2013

Apabila Peranan Hati Dinilai Oleh Manusia

Assalamualaikum

Saya yakin, kita pernah dengar hadith yang maksudnya,

"Sesungguhnya setiap perbuatan bergantung pada niat dan setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang diniatkan. Sesiapa yang berhijrah kerana (ingin mendapatkan keredhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka dia akan mendapat (keredhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan sesiapa yang hijrahnya kerana dunia yang dikehendakinya ataupun kerana wanita yang ingin dikahwininya, maka nilai hijrahnya seperti (sebagaimana) yang dia niatkan."

(Hadith riwayat Imam Bukhari r.h, Sahih Bukhari dari Umar Al-Khattab r.a)

Begitu pentingnya peranan niat dalam sesuatu amal perbuatan. Niatlah yang membezakan antara solat-solat sunat. Niatlah yang menjadi salah satu ukuran sama ada kita peroleh pahala ataupun dosa ataupun tidak peroleh apa-apa langsung. Niat jugalah yang menjadi ukuran nilai keikhlasan dalam amalan baik kita.

Niat tidak boleh dilihat oleh manusia lain. Tidak juga boleh dibaca oleh manusia lain. Kita juga tidak boleh harap orang lain suruh 'tengok-tengok' niat kita takut-takut salah. Kita sendirilah yang kena jaga niat kita supaya amal yang baik tidak terhapus menjadi abu dek kerana niat yang salah.

Niat hanya boleh dinilai oleh Allah. Niat kita sendiri pun kadangkala, kita terlepas pandang. Namun ramai manusia hari ini tidak peduli dengan niat sendiri, tetapi sibuk menilai niat orang lain yang mereka tidak nampak dan tidak boleh baca. 

Yang timbul hanya persepsi dan sangkaan dari apa yang nampak zahir itu. Zahir itu mungkin silap apabila tidak tahu apa isi hati seorang manusia itu. Namun, kita lebih cenderung berfikir ke arah negatif.

Apabila memberikan kritikan, kita sangka dia mahu menjatuhkan. Apabila membaca Al-Quran di khalayak ramai, kita sangka dia riak dan mahu menunjuk-nunjuk. Apabila mahu berubah jadi baik, kita sangka dia hipokrit.

Apabila ada orang update status di laman sosial tentang orang itu berpuasa, automatik kita kata dia tu suka menunjuk-nunjuk. Apakah pendedahan itu menjadi nilaian kita untuk membuktikan niat seseorang?

Mungkin dia nak mengajak orang lain sekali turut berpuasa. Ataupun dia sekadar mahu berkongsi kehidupan dia tanpa niat untuk riak. Siapa tahu?

Sedangkan kita tidak tahu apa yang terbuku dalam hati manusia itu. Mengapa sangka buruk didahului daripada sangka baik?

Kadangkala kita sangka orang mahu lakukan sesuatu itu kerana wang, tetapi apa yang dia benar-benar mahukan dan niatkan, kita tidak tahu. (Sumber dari Google Image)


Saya ingat dahulu ada orang pernah lontarkan soalan, "Kau ni jadi penulis kerana apa? Ikhlas ataupun nak duit & populariti?"

Saya yakin, penulis dan pelukis komik pernah menghadapi soalan ini. Saya rasa tidak adil langsung apabila pengkarya sahaja yang sering dilontarkan soalan begini. Seolah-olah, cuma mereka yang ikhlas sahaja yang boleh lakukan kerja-kerja sebegini.

Apa salahnya sekiranya kami berkarya kerana mahukan duit? Ataupun mahukan populariti? Ada masalahkah? Mengapa tidak soal perkara yang sama kepada profession-profession lain?

Islam mahukan keikhlasan dalam setiap pekerjaan yang baik dan tidak melanggar syariat.

Pada saya soal keikhlasan tidak patut disoal. Sekiranya saya kata, "Saya ikhlas", apakah orang dapat buktikan yang saya benar-benar ikhlas?

Sumber dari Google Image


Peranan hati bukan kerja manusia. Bukan juga penilaian manusia. Ia adalah kerja Allah kerana Allah lebih Tahu apa yang terbuku dalam hati manusia berbanding diri manusia itu sendiri.

Kita selalu ragu-ragu tentang keikhlasan apabila seseorang buat baik terhadap kita, tetapi kita tidak pernah ragu-ragu tentang keikhlasan orang yang buat jahat kepada kita.